Xar & Vichattan Buku Dua : Prahara

Xar & Vichattan Buku Dua : Prahara

Xar & Vichattan Buku Dua : Prahara

By: Bonmedo Tambunan

Penerbit : Adhika Pustaka (http://www.adhika-pustaka.com/)

Jumlah Halaman : 423

Sinopsis

Pada buku pertama Xar dan Vichattan, dikisahkan bahwa keempat remaja, dua dari kuil Xar, yaitu Dalrin dan Antessa, serta dua lainnya dari Vichattan, yaitu Kara dan Gerome, telah mendapati diri mereka menjadi ahli waris cahaya, yang harus bertarung melawan kegelapan dan pimpinannya, Khalash, dengan bantuan Cahaya. Mereka telah berhasil membangkitkan kembali Kuil Cahaya (yang sempat runtuh seiring dengan berakhirnya perang melawan kegelapan 7 tahun sebelumnya, dan meninggalnya pendeta cahaya terakhir, yaitu Luscia) dengan bantuan kedua roh Cahaya, yaitu Amor dan Pietas.

Sebagai informasi tambahan, kuil Xar dan Vichattan merupakan keturunan dari ahli waris Cahaya, di mana perbedaan dari mereka adalah, para warga kuil Xar menggunakan energi di dalam diri mereka, dan bergabung dengan Xar untuk bertarung. Sementara bagi warga Vichattan, keahlian mereka adalah menyerap energi alam yang tersedia di sekitar mereka dan menggunakannya untuk bertarung.

Pada buku kedua ini, yang menjadi perhatian utama adalah mulai beraksinya para pengikut kegelapan, di bawah pimpinan Khalash. Untuk melemahkan kuil Xar dan Vichattan, Khalash mengatur strategi untuk mencemari sumber energi dari Xar dan Vichattan, yaitu sumber energi Xar di Ruang Hati kuil Xar dan Kristal Utama energi alam yang menjadi sumber energi dari kaum Vichattan. Tugas pertama untuk mencemari Ruang Hati Xar diserahkan kepada Corbus, panglima kegelapan yang menjadi tangan kanan langsung dari Khalash dan memiliki kekuatan kegelapan yang berbahaya. Sementara tugas kedua, mencemari Kristal Utama, diserahkan kepada Frigus Acerbus, ratu dari bangsa peri yang haus akan kekuatan dan beralih kepada kegelapan. Untuk memecah belah perhatian dari ahli waris, maka Khalash juga memerintahkan Shiba, panglima kegelapan lainnya, untuk menyerang desa Galad, yang menjadi salah satu basis pertahanan Xar dan Vichattan.

Ahli waris Cahaya sendiri, yang terdiri dari 4 orang, memiliki tugas masing-masing, di mana Kara ditugaskan untuk mencari tahu dari mana monster-monster kegelapan berasal, karena monster tersebut seolah tidak ada habisnya, walaupun sudah berulang kali dihabisi oleh pejuang Xar dan Vichattan. Apakah monster tersebut benar-benar diciptakan dari sihir kegelapan ? ataukah sebenarnya monster-monster itu berasal dari dunia lain ? Itulah tugas penting Kara, mengetahui asal muasal dari monster tersebut. Sementara itu, Antessa ditugaskan untuk membantu para peri dalam melindungi Kristal Utama dari ancaman Frigus Acerbus. Dalrin, yang sempat mengalami pergolakan batin yang sangat hebat, ditugaskan untuk membantu kuil Xar menghalangi niat Corbus dalam mencemari sumber energi Xar. Sedangkan Gerome, bersama salah satu Roh Cahaya, Amor, bertugas membantu pasukan Xar dan Vichattan di desa Galad menghalau pasukan kegelapan.

Apakah sebenarnya rencana Khalash dan pasukan kegelapannya ? Berhasilkah para ahli waris cahaya dalam melakukan tugasnya masing-masing dan melindungi dunia ? Silahkan baca cerita selengkapnya pada buku Xar dan Vichattan Buku Dua : Prahara.

Review

Story / Plot

Dari sisi cerita maupun plot, menurut saya, banyak sekali hal-hal yang mengejutkan, terutama tentang masa lalu dari sebagian karakter utama, baik dari sisi kegelapan (Shiba dan Corbus), maupun sisi cahaya (Petra, Lisbet,dll).. Cerita-cerita lampau tersebut cukup baik dipaparkan, sehingga menunjang berbagai konflik antar tokoh yang terjadi pada buku dua ini. Berbagai pengkhianatan, intrik dan masalah pribadi yang terjadi masa lalu menjadikan cerita ini cukup kompleks, namun menarik untuk diikuti.

Pada buku kedua ini juga, pembaca dapat mengetahui berbagai ‘sejarah’ dan hubungan dari Xar, Vichattan, serta kegelapan. Contohnya, hubungan energi Xar, Vichattan, dengan kegelapan/cahaya. Lalu ada cerita tentang bangsa peri dan segala permasalahan dalam bangsanya. Lalu, asal muasal dari monster-monster kegelapan. Dan juga adanya cerita tentang dimensi-dimensi lain.

Namun, menurut saya, buku ini agak kurang greget, terutama karena banyak sekali adegan-adegan yang sifatnya mengisahkan sesuatu, dan adegan pertarungan nya justru terasa cepat selesai. Padahal, dalam buku ini, dapat dikatakan pihak kegelapan dan ahli cahaya sendiri sudah menampilkan para ksatria terbaiknya, seperti pihak kegelapan yang diwakili Khalash sendiri, Frigus Acerbus yang merupakan ratu peri, dan Nolacerta, naga berkepala dua yang merupakan perwakilan dari kegelapan di dunia ini. Menurut saya, dengan kapasitas tokoh antagonis yang serasa sudah superior, sedangkan tokoh protagonis (ahli waris cahaya) yang masih remaja, maka seharusnya pertarungan yang terjadi dapat sangat seru. Namun, terkadang, saya merasa bahwa pihak kegelapan cukup ‘mudah’ untuk dikalahkan.

Setting

Setting dalam cerita ini dapat digambarkan dengan cukup baik oleh pengarang. Namun, menurut saya, lokasi dan tempat yang ditunjukkan juga sangat sedikit, dengan hanya berpusat pada Kuil Xar, Vichattan, kuil Cahaya, dan dimensi kegelapan. Memang, cerita pada buku ini sudah tidak lagi mengisahkan petualangan seperti halnya pada buku pertama, yang kaya akan cerita setting dan lokasi-lokasi baru. Untuk setting waktu, juga kurang terasa, karena seolah-olah masalah terus datang menghampiri, dan terjadi dalam waktu yang sangat singkat, sementara banyak sekali peristiwa yang sudah terjadi.

Salah satu poin plus dari buku ini adalah setting dan penceritaan yang bergantian antar tokoh dan peristiwa, sehingga mengurangi kebosanan pembaca ketika mengikuti petualangan salah satu tokoh tertentu. Dengan setting yang berpindah-pindah, tentu imajinasi pembaca juga dapat berpindah dengan dinamis, tidak terlalu bosan dan terfokus pada karakter tertentu saja.

Tokoh Baru

Dalam buku kedua ini, terdapat beberapa tokoh baru yang cukup penting peranannya dalam kelanjutan kisah Xar dan Vichattan, yaitu

  • Frigus Acerbus: ratu bangsa peri yang akhirnya meninggalkan cahaya untuk memperoleh kekuatan kegelapan yang sangat besar. Tokoh antagonis ini dianggap ‘pengkhianat’ oleh bangsa peri, walaupun sebenarnya bangsa peri lah yang sudah mengkhianati ratunya. Perannya dalam cerita ini sangat penting, terutama terkait dengan rencana pencemaran Kristal Utama.
  • Tiarawati Lisbet: tiarawati Lisbet sebenarnya merupakan tiarawati senior yang cukup disegani akan kemampuannya. Malangnya, kondisi kejiwaannya terganggu akibat dirinya sendiri yang berusaha menggabungkan kemampuan kaum Vichattan dan Xar dalam mengolah energi alam dan Xar. Namun, ternyata, ketidakwarasannya justru membuat dirinya memiliki kemampuan unik, yaitu menjelajahi dimensi-dimensi lain.

Overall

Secara keseluruhan, menurut saya, buku ini cukup bagus dan layak untuk menambah koleksi. Saya sangat mengapresiasi karya ini, terutama karena ini adalah salah satu novel fiksi fantasi buatan penulis Indonesia, bukan terjemahan. Dari sisi cerita, alur yang ditawarkan cukup baik, dipenuhi dengan unsur kejutan yang tidak saya sangka sebelumnya. Hanya saja, jujur, greget untuk pertarungan masih terasa kurang. Semoga di seri ketiga, di mana menurut saya konflik yang akan terjadi mestinya semakin seru, terdapat pertarungan yang seru juga. Poin Plus lainnya, pada bagian awal, penulis menyertakan peta tentang lokasi-lokasi yang terlibat dalam cerita yang dapat membantu visualisasi dari lokasi tersebut, dan bagian akhir buku dilengkapi dengan daftar nama dan tokoh yang terlibat dalam cerita ini.

Demikian resensi/review saya untuk buku Xar dan Vichattan 2 ini. Jika ingin melihat resensi untuk buku Xar dan Vichattan 1, silahkan klik di sini.

Advertisements

Xar & Vichattan Buku Satu :Takhta Cahaya

Xar & Vichattan Buku Satu : Takhta Cahaya

Xar & Vichattan Buku Satu : Takhta Cahaya

By: Bonmedo Tambunan

Penerbit : Adhika Pustaka (http://www.adhika-pustaka.com/)

Jumlah Halaman : 339

Sinopsis

Kuil Xar dan Vichattan, merupakan kedua tempat yang sama-sama didirikan oleh ahli waris cahaya, yaitu Xar dan Vichattan sendiri. Kedua kaum ini, bersama-sama dengan pendeta Cahaya Luscia, telah berhasil mengalahkan pasukan kegelapan yang dipimpin oleh Khalash dan panglima kegelapannya, 7 tahun lalu, dalam pertarungan yang sangat sengit dan memakan banyak korban.

Kuil Xar, dipimpin oleh biarawati Mirell, merupakan kaum yang terlatih untuk bersatu dengan energi di dalam diri mereka sendiri, yang disebut dengan Xar. Prajurit Xar sendiri terbagi menjadi dua kelompok, yaitu Ka-Xar yang dipimpin oleh Jendral Terma, merupakan pasukan Xar yang lebih mengandalkan kemampuan fisik mereka. Sementara Es-Xar, yang dipimpin Petra, merupakan pasukan Xar yang lebih berkonsentrasi pada kemampuan sihir Xar, terutama untuk mempengaruhi kondisi psikis lawannya. Dari kuil Xar sendiri, masih ada Antessa, cucu dari biarawati Mirell yang di usia muda sudah menunjukkan bakat Es-Xar yang luar biasa, dan Dalrin, anak dari Terma, yang juga berbakat dalam pertarungan.

Vichattan sendiri dipimpin oleh tiarawati Magdalin. Istana yang ditempatinya disebut dengan Istana Tiara, sedangkan para pembantunya yang setia lebih dikenal dengan istilah tiarawan dan tiarawati. Berbeda dengan kuil Xar yang mengandalkan energi Xar di dalam dirinya, para pejuang Vichattan mengandalkan energi alam berupa partikel-partikel yang dapat dimanipulasi dan digunakan dalam sihir. Partikel tersebut seperti partikel api, air, tanah, dan udara. Sama halnya seperti Xar yang memiliki Antessa dan Dalrin, Vichattan juga memiliki Kara, cucu dari tiarawati Magdalin dan Gerome, anak dari tiarawan-tiarawati Vichattan yang sudah gugur sewaktu berperang melawan kegelapan. Kedua remaja ini juga memiliki kemampuan yang sama baiknya.

Pada buku ini, diceritakan bahwa biarawati Mirell dan tiarawati Magdalin mendapatkan serangan kegelapan yang cukup aneh, yang bahkan bagi orang yang berilmu tinggi seperti mereka, mereka juga tidak tahu serangan apakah itu sebenarnya. Hal ini membuat biarawati Mirell cemas, dan memutuskan untuk segera menemui Magdalin dengan harapan mereka dapat berdiskusi lebih lanjut lagi. Selain itu, Mirell juga beberapa kali mendapatkan mimpi, di mana dalam mimpi tersebut, dia melihat keempat anak remaja, dua di antaranya adalah Antessa dan Dalrin. Maka, tanpa membuang waktu lagi, Mirell dan pasukannya yang dipimpin Terma, beserta Antessa dan Dalrin, segera menuju Vichattan.

Sesampainya di Vichattan sendiri, Mirell dan Magdalin segera mengadakan rapat bersama para petinggi dan menteri lainnya, untuk mencari tahu apakah yang sebenarnya sedang terjadi. Dari sinilah mereka mengetahui, bahwa apa yang menimpa Mirell dan Magdalin adalah kutukan kegelapan, yang dilepaskan Khalash sebelum dirinya dikalahkan 7 tahun lalu pada pertarungan Cahaya melawan Kegelapan. Aktifnya kutukan ini juga menjadi pertanda bahwa kuil kegelapan dan Khalash telah berhasil bangkit kembali, sementara kuil Cahaya masih tertidur, semenjak meninggalnya pendeta cahaya Luscia.

Sementara para petinggi Xar dan Vichattan sedang berdiskusi, Dalrin dan Antessa bersama teman baru mereka dari Vichattan, Kara dan Gerome, sibuk sendiri di perpustakaan besar Vichattan, di mana Kara dan Gerome sedang menunjukkan keindahan Vichattan pada tamu baru mereka. Namun, ternyata, mereka menemukan benda peninggalan pendeta cahaya Luscia, yang memanggil-manggil mereka. Dari sana, diketahui bahwa ke empat anak ini terpilih untuk menjadi ahli waris cahaya, untuk sekali lagi mengalahkan kegelapan. Namun, karena kegelapan sudah lebih dahulu kembali ke dunia, maka waktu yang tersisa tidak boleh terbuang. Maka, meskipun dengan berat hati karena keempat anak remaja ini sesungguhnya belumlah terlalu dewasa untuk menanggung beban berat ini, Luscia segera mengirim mereka ke pegunungan Eros untuk membangkitkan dua roh cahaya yang sedang tertidur, Amor dan Pietas, untuk segera membangkitkan lagi kuil Cahaya.

Tentu saja, pihak kegelapan pun sudah mengetahui adanya ahli waris yang baru ini, dan tentu saja mereka tidak akan semudah itu membiarkan Cahaya bangkit kembali. Maka, diutuslah Panglima Shiba, salah satu panglima kegelapan yang tersisa untuk membunuh keempat ahli waris yang baru sebelum mereka berhasil membangunkan kembali kuil Cahaya.

Bagaimanakah petualangan keempat ahli waris cahaya dalam membangunkan kembali kuil Cahaya ? Apakah mereka akan berhasil ? Jangan lupa untuk membaca ceritanya pada buku ini.

Review

Story

Cerita pada buku pertama ini lebih berkutat pada ‘pengenalan’ akan kuil Xar dan Vichattan. Lalu, diikuti dengan sedikit pengantar tentang pertarungan cahaya dan kegelapan. Selanjutnya, cerita bergeser pada keempat ahli waris cahaya, yang sudah harus memulai petualangan mereka dalam membangunkan kembali kuil Cahaya, untuk menandingi kuil Kegelapan yang sudah muncul kembali.

Cerita petualangan tersebut di mulai dari ketika mereka pertama kali dikirim ke Pegunungan Eros, dikejar-kejar monster kegelapan, bahkan panglima kegelapan Shiba sendiri.Lalu bagaimana mereka pertama kali bertemu dengan bangsa peri yang juga membantu mereka.

Tidak kalah mengejutkannya juga adalah adanya beberapa tokoh penting, baik dari Xar dan Vichattan, yang harus meninggal, dalam tugasnya melindungi keempat ahli waris cahaya.

Setting

Pada buku pertama ini, karena merupakan edisi pertama, maka setting yang disuguhkan juga sangat banyak dan cukup detail, yang sangat membantu imajinasi pembaca dalam membayangkan apa yang sedang disampaikan oleh penulis. Beberapa setting yang dibahas, misalnya adalah kuil Xar, Vichattan dan keindahan kota di dalamnya, lalu berbagai pegunungan dan desa yang juga dilalui oleh tokoh-tokohnya pada cerita buku pertama ini.

Tokoh

Berikut merupakan daftar dari tokoh yang menjadi sentral cerita dalam buku pertama ini

  • Biarawati Mirell : pemimpin utama kuil Xar.
  • Tiarawati Magdalin : pemimpin utama Vichattan.
  • Terma : Jendral pemimpin pasukan Ka-Xar dari kuil Xar.
  • Petra : Jendral pemimpin pasukan Es-Xar dari kuil Xar.
  • Antessa: Cucu dari Mirell, salah satu ahli waris cahaya.
  • Dalrin: Anak dari Terma, salah satu ahli waris cahaya.
  • Kara : Cucu dari Magdalin, salah satu ahli waris cahaya.
  • Gerome: anak tiarawan dan tiarawati Vichattan, salah satu ahli waris cahaya.
  • Khalash: Pangeran kegelapan, tokoh antagonis utama dalam cerita ini
  • Shiba : salah satu panglima kegelapan yang masih hidup
  • Corbus : salah satu panglima kegelapan yang paling sakti, tangan kanan dari Khalash.
  • Nolacerta: Perwakilan Roh Kegelapan di dunia, berwujud naga berkepala dua, di mana nama masing-masing kepala adalah Nola dan Certa.

Overall

Secara overall, cerita yang disuguhkan cukup menarik,meskipun buku ini lebih tepat dikatakan sebagai pengantar cerita menuju seri-seri selanjutnya yang pasti lebih seru karena sudah memasuki konflik yang sesungguhnya. Setting yang diberikan pada buku ini cukup detail, membantu imajinasi para pembacanya.

Untuk informasi tambahan, seri kedua berjudul Prahara juga sudah dapat dibeli. Bagi yang ingin melihat review dari buku kedua Xar dan Vichattan, silahkan klik di sini.

The Richest Man in Babylon

The Richest Man in Babylon (Terjemahan Indonesia)
by George S. Clason
199 Halaman
Rp 40.000 (bulan Juli 2010)
Rating : 7.5/10

Buku ini adalah buku yang mengisahkan berbagai kebijaksanaan (yang berhubungan dengan finansial)¬†yang ada pada masa Babylonia , yang merupakan salah satu peradaban terkaya yang pernah ada di bumi ini.. Buku ini mengulas bagaimana orang-orang kaya di Babylon dapat hidup makmur, sementara pada saat yang bersamaan di sana, banyak orang masih saja hidup miskin, karena orang-orang kaya tersebut seolah tahu bagaimana cara menjaga emasnya, bahkan membuat emas mereka ‘beranak-pinak’.. ¬†Sama seperti buku The Noticer yang sudah saya bahas sebelumnya di Post #401, buku ini juga menggunakan pendekatan cerita untuk menyampaikan berbagai pesan moral yang ingin disampaikan kepada pembacanya.

Alkisah, ada satu orang yang dianggap sebagai orang terkaya di Babylon, yaitu Arkad, yang sangat terkenal akan kekayaannya. Bahkan, raja Babylon yang berkuasa saat itu sampai meminta bantuan Arkad untuk mengajarkan cara-cara menjadi kaya kepada beberapa orang terpilih, dengan harapan orang-orang tersebut dapat mengajari orang-orang lainnya lagi sehingga dapat meningkatkan kemakmuran bangsa Babylon.. Untuk diketahui, Arkad bukanlah putra seorang kaya yang hanya mewarisi kekayaan saja, namun dia adalah contoh bagaimana orang yang tidak punya apa-apa dapat menjadi kaya dengan tekad yang keras.

Arkad mengajari 7 kebijaksanaan tentang emas (pada zaman sekarang, mgkn lebih tepat jika emas dianggap sebagai uang), yaitu:

  1. Mulailah menggemukkan pundi-pundimu. Menurut Arkad, cara termudah untuk melakukan hal ini adalah dengan selalu memastikan 1/10 dari penghasilan ditabung dan tidak digunakan sampai saat yang tepat, sementara yang boleh dibelanjakan maksimal adalah 9/10 nya. Namun akan lebih bijak, jika untuk kehidupan sehari-hari, yang digunakan hanya 7/10 saja. Arkad mengatakan bahwa ini adalah salah satu penyebab utama dirinya bisa menjadi kaya.
  2. Kendalikan pengeluaranmu. Pengeluaran, jika tidak dikendalikan, akan selalu bertambah besar walaupun penghasilan juga semakin besar. Hal ini mungkin karena sifat dasar manusia, yang cenderung menghabiskan sesuatu yang dimilikinya. Oleh karena itu, untuk memastikan pengeluaran yang dilakukan adalah tepat dan tidak boros, maka pengeluaran perlu dikendalikan.
  3. Lipat gandakan emas kalian. Untuk zaman modern seperti sekarang ini, mungkin nasihat ini dapat diterjemahkan dengan kata ‘investasi’, di mana diharapkan uang yang kita investasikan akan menghasilkan pendapatan lain (dan pasif).
  4. Jagalah harta kalian agar tidak lenyap. Hal ini masih berkaitan dengan nomor 3, di mana Arkad bercerita bahwa investasi pertamanya gagal karena dia tidak hati-hati. Dia mempercayakan uangnya kepada pembuat batu bata, untuk membeli permata di tempat yang jauh. Namun ternyata, temannya tersebut ditipu dan hanya membawa potongan kaca saja. Berkaca dari pengalaman tersebut, maka Arkad lebih berhati-hati dan lebih selektif dalam memilih partner investasinya. Sebagai contoh, dia berpartner dengan pengrajin tembaga untuk membuat perisai bagi serdadu kerajaan dan hal ini memberikan untung besar bagi dirinya. Hal ini karena dia berpartner dengan rekan yang memang kompeten. Maka, berhati-hatilah dengan investasi yang kita lakukan, terutama bila kita sendiri juga belum kompeten sekali.
  5. Jadikan tempat tinggalmu sebagai investasi yang menguntungkan. Yah, mungkin untuk zaman modern ini, ajaran ini sedikit bertentangan dengan apa yang diajarkan Robert Kiyosaki, bahwa rumah merupakan liabilitas, bukan aset. Namun, pada zaman dahulu, jika seseorang memiliki rumah, maka hidupnya akan jauh lebih baik. Hal ini karena pada umumnya, rumah zaman dahulu juga dilengkapi kebun dan tempat untuk memelihara ternak, sehingga dapat mengurangi biaya hidup pada saat itu.
  6. Buatlah pendapatan di masa depan terjamin. Hal ini lebih diarahkan pada investasi jangka panjang yang membuat kekayaan kita terus bertambah seiring dengan berjalannya waktu dan memastikan kebutuhan keluarga di masa tua masih tetap terpenuhi.
  7. Tingkatkan kemampuan memperoleh pendapatan. Pada zaman dulu, pendapatan yang diperoleh sangat berbanding lurus dengan kemampuan. Semakin tinggi kemampuan seseorang, maka semakin tinggi pula penghargaan (pendapatan) yang dia peroleh. Oleh karena itu, Arkad juga menganjurkan agar kita semakin meningkatkan kemampuan sehingga pendapatan kita juga akan meningkat.

Selain ketujuh nasihat di atas, buku ini juga memuat beberapa hal lagi, di antaranya adalah:

  • Pandangan akan kemujuran, di mana Arkad mengatakan bahwa kemujuran yang sesungguhnya akan mendatangi mereka yang bekerja keras. Keberuntungan sesaat, seperti yang diperoleh dari meja judi, mungkin sangat menggembirakan. namun seringkali, keberuntungan seperti itu juga sangat cepat lenyapnya, karena membuat orang lupa diri. Maka Arkad mengingatkan bahwa jika kita ingin menarik keberuntungan itu dengan lebih pasti, caranya adalah dengan bekerja keras.
  • Ada cerita bahwa putra Arkad, Nomasir, tidak serta merta saja mendapatkan seluruh harta peninggalan ayahnya. Dia terlebih dahulu harus membuktikan bahwa dia juga mampu mengelola kekayaan ayahnya, dengan cara berhasil memperoleh kekayaan nya sendiri dulu. Namun, Arkad juga membekali putranya dengan 5 aturan penting tentang emas, yaitu:
    emas akan mendatangi mereka yang mau menyisihkan tidak kurang dari sepersepuluh penghasilnnya untuk menciptakan harta benda bagi masa depannya dan keluarganya;
    emas akan bekerja bagi pemiliknya yang bijaksana, yang menemukan pekerjaan yang menguntungkan bagi emas itu;
    emas akan aman dalam lindungan pemiliknya yang bijak, yang menginvestasikannya berdasarkan nasihat orang yang terbukti ahli;
    emas akan lari dari orang yang menginvestasikannya dalam usaha yang tidak diketahui dengan baik;
    emas akan lari dari orang yang memaksanya untuk memberi penghasilan yang mustahil.
  • berbagai kisah menarik lainnya, yang biasanya merupakan cerita kebijaksanaan dari orang-orang berhasil di Babylon yang bahkan mengawali kekayaannya dengan menjadi budak-budak yang diperjualbelikan, namun berhasil menjadi orang sukses dengan ketekunan dan tekad yang keras.

Menurut saya, buku ini cukup menarik untuk dibaca dan dipahami, bagaimana cara hidup orang kaya di Babylon. Orang kaya di sini adalah mereka yang berhasil mengumpulkan kekayaan dari nol, dan tetap hidup bersahaja, bahkan dapat menambah kekayaan mereka, bukannya malah berfoya-foya dan menghamburkan uangnya. Buku ini sendiri sudah cukup lama (ditulis pada awal 1900-an untuk edisi pertamanya), dan juga mengulas tentang salah satu peradaban paling kuno, sehingga tentu saja tidak semua nasihatnya dapat ditelan mentah-mentah dan diterapkan pada masa sekarang ini.

Namun, menurut saya, buku ini jg mengandung nilai moral yang sangat baik, selain berbagai nasihat finansial (yang menurut saya masih relevan dengan zaman sekarang, walaupun perlu banyak sekali penyesuaian). Nasihat-nasihat yang diberikan tidak jauh berbeda dari nasihat finansial pakar-pakar zaman sekarang (seperti R.Kiyosaki, dll), namun dibungkus dalam cerita yang menarik dan memiliki pesan moral, sehingga pembaca seolah-olah tidak hanya sedang membaca buku tentang nasihat finansial saja..

The Noticer

The Noticer
by Andy Andrews
187 halaman
Rp 50.000 (bulan Juli 2010)

The Noticer adalah buku yang terakhir aku baca, yang merupakan rekomendasi dari Anita, temen ku yang sebelumnya udah baca buku ini.. Overall, buku ini cukup bagus, bercerita tentang bagaimana perspektif dalam hidup akan membuat kita menjadi lebih baik. Meskipun menurutku buku ini bisa dikategorikan sebagai buku self-motivation learning, namun buku ini ditulis dengan gaya cerita novel, sehingga tidak membosankan, dan tidak terkesan mengkuliahi pembaca nya.

Secara umum, buku ini berkisah tentang Jones, seorang tua yang seolah-olah selalu mengetahui permasalahan setiap orang, hadir di saat yang tepat, memberikan nasihat yang tepat, sehingga hidup orang yang bermasalah tadi seolah berubah menjadi jauh lebih baik sejak kehadiran Jones.. Buku ini terbagi menjadi 10 bab, yaitu:

1. Bab ini bercerita ttg masa lalu Andy (sang pengarang sendiri), di mana sebelumnya dia merupakan seorang yang miskin, dan hanya hidup untuk sekedar bertahan hidup saja. Suatu hari, Jones mendatanginya di pantai, dan mereka bercerita banyak tentang salah satu hal yang utama dalam kehidupan, yaitu tentang perspektif pikiran. Jones mengingatkan bahwa kesempatan akan datang bersamaan dengan orang lain dan dorongan. Maka jika kita ingin memperoleh banyak kesempatan dalam hidup ini, maka yang harus dipikirkan adalah bagaimana cara menjadi orang yang akan didekati dan disukai oleh orang lain. Jika kita bertanya caranya, maka ada satu pertanyaan lagi yg harus dipikirkan, yaitu, “Jika ada hal yang bisa diubah oleh orang lain dari diri kita, apakah hal tersebut ?”. Hal ini cukup penting untuk diri kita sendiri sebagai suatu self-learning, mempelajari diri kita sendiri sehingga menjadi manusia yg lebih baik.

2. Bab ini bercerita tentang Jan dan Barry, sepasang suami istri yang sudah tidak nyaman dengan pernikahan mereka. Bukan karena mereka tidak saling mencintai lagi, namun mereka tidak mengerti ‘dialek cinta’ pasangan mereka masing-masing. Jones menjelaskan ada 2 tipe dialek cinta, yaitu ‘act of service’ atau perbuatan melayani pasangannya, dan ‘words of affirmation” atau perkataan. Act of Service merupakan dialek di mana seseorang akan melakukan suatu perbuatan sebagai bentuk kasih sayang (dalam hal ini, Jan dulu mencintai Barry karena Barry sangat senang melakukan hal-hal yang terlihat remeh, seperti mencuci pakaian, membantu Jan, dll. Namun akhirnya Barry berhenti melakukannya karena merasa hal itu tidak terlalu penting). Words of Affirmation merupakan dialek di mana seseorang mengungkapkan perasaan cintanya melalui ucapan (dalam hal ini, Barry selalu menyatakan cintanya pada Jan dan dulu Jan selalu membalas, namun belakangan Jan merasa bahwa semua orang juga dapat melakukannya, sehingga dia tidak perlu menyatakan cintanya lagi kepada Barry). Biasanya, orang dengan yang mencintai dengan dialek tertentu cenderung senang dicintai dengan cara yang sama.

3. Bab ini bercerita tentang lanjutan dialek cinta, yaitu ‘Physical Touch’ atau sentuhan fisik dan ‘Quality Time’ atau waktu bersama yg berkualitas. Physical Touch merupakan dialek di mana seseorang mengungkapkan perasaan cintanya melalui sentuhan kepada pasangannya (misalkan berpegangan tangan, berpelukan, dll) . Sementara Quality of Time merupakan dialek di mana seseorang mencintai pasangannya dengan keberadaannya dalam waktu yg berharga, entah apa yang dilakukan, apakah hanya sekedar menemani pasangan atau juga ikut terlibat bersama kegiatan pasangannya. Dalam bab ini, Jones juga menjelaskan ilustrasi dari 4 tipe dialek ini, di mana tipe Physical Touch diibaratkan sebagai kucing yang senang sekali jika disentuh/dibelai dsb. Tipe Quality of Time diibaratkan dengan burung kenari, di mana burung ini tidak terlalu banyak sentuhan, namun perlu merasa diperhatikan dengan didengarkan nyanyiannya. Tipe Word of Affirmation diibaratkan sebagai anjing, di mana anjing suka sekali terhadap pujian dari tuannya. Tipe Act of Service diibaratkan dengan ikan mas, di mana ikan mas tidak perlu tahu apakah kita memperhatikannya, apakah kita menyentuhnya, dia hanya ingin memastikan bahwa dia diberi makanan dan kolamnya dibersihkan.

4. Bab ini bercerita tentang Walker, yang hidupnya diliputi berbagai kecemasan. Hal ini karena pikiran imajinatifnya sendiri, di mana semua kemungkinan terburuk pun juga ikut dipikirkannya, sehingga malah menjadi bumerang dan membuat dirinya sendiri khawatir. Oleh karena itu, Jones menyuruhnya untuk mengalahkan pemikiran-pemikiran negatif itu dengan logika, di mana menurut Jones hanya 8% dari pikiran kita yang benar tentang suatu kekhawatiran, selebihnya bukanlah merupakan kekhawatiran yang sesungguhnya. Jones juga menganjurkan untuk menuliskan 10 hal yang dapat kita syukuri tiap harinya, sehingga hari kita akan menjadi lebih baik dengan adanya rasa syukur itu.

5. Bab ini bercerita tentang segerombolan remaja yang sedang magang di padang Golf, dan bertanya kepada Jones tentang perkawinan. Jones mengatakan bahwa dalam perkawinan, sangat sering terjadi kompromi yang malah membuat pernikahan tidak bahagia bagi yg menjalaninya. Ilustrasinya adalah berikut. Ada seorang pria yang mencintai perempuan. Pria tersebut suka sekali sepakbola, namun alergi terhadap kuda. Sebaliknya perempuan itu senang sekali terhadap kuda, namun tidak suka sepak bola. Namun, masing-masing dari mereka berpikir bahwa pasangannya adalah yang paling penting, dan mereka rela berkompromi terhadap hal yang sebelumnya mereka sukai. Hal-hal seperti demikian inilah yg dapat merusak pernikahan, karena kedua belah pihak tidak hidup dengan apa yang mereka cintai. Selain masalah pernikahan, Jones juga menyebutkan bahwa teman yang kritis harus disyukuri, karena sering kali kita tidak dapat melihat perspektif yang luas jika dihadapkan pada suatu permasalahan. Oleh karena itu, kita butuh teman yg dapat mengingatkan kita dengan perspektif yang lebih luas.

6. Bab ini bercerita tentang Willow, seorang perempuan tua yang hidup sendirian karena suaminya meninggal dan anak-anaknya sudah hidup sendiri bersama keluarga mereka masing-masing. Willow merasa hidupnya sudah tidak berarti, karena dia merasa tidak ada lagi yang dilakukannya. Bahkan dia merasa sedikit bersalah, karena dirinya sudah hidup setua itu, sedangkan anak terakhirnya yang paling dicintainya sudah meninggal. Dia berpikir bahwa tugas-tugas dalam kehidupannya sudah selesai dan sudah seharusnya digantikan oleh orang yang lebih muda. Jones datang kepadanya dan mengatakan bahwa ” Selama kamu masih bernapas, maka kamu belum mati, dan tugas mu di dunia ini belum selesai”. Willow lalu mengatakan bahwa dia akan mencoba melakukan beberapa hal kecil untuk mengisi harinya. Namun Jones kembali mengatakan bahwa sebenarnya tidak ada hal kecil di dunia ini. Dia mencontohkan, Bourlag merupakan orang penemu hibrida gandum yang menyelamatkan 2 miliar orang dari kelaparan. Namun, menurut Jones, Harry Wallace (mantan menteri pertanian dan wakil Presiden Amerika Serikat) merupakan orang yg berjasa karena beliaulah yang memerintahkan pencarian hibrida tersebut dan mempekerjakan seorang pemuda bernama Bourlag. Jauh sebelumnya, tidak ada yg tahu bahwa dulu, George Washington Carver (yang merupakan ahli tanaman) pernah mengajak anak berumur 6 tahun untuk meneliti tanaman, dan anak itu bernama Harry Wallace. Hal ini menunjukkan bahwa seringkali tanpa sadar, hal-hal besar selalu diawali dengan hal terkecil dan kelihatannya tidak penting.

7. Bagian ini bercerita tentang Henry, seorang pengusaha yang mendambakan kesuksesan, namun tidak mengerti bahwa masih ada kehidupan yang sukses yang lebih penting. Pada mulanya, dia merupakan seorang yang selalu mengutamakan kepentingannya. Dia adalah kontraktor real estat. Seringkali dia berbuat beberapa kecurangan kecil dalam pekerjaannya yang mengakibatkan customer komplain, bahkan hingga sampai bosan dan akhirnya meninggalkannya (tentu dengan pembayaran yang sudah lunas, hal ini yang paling penting bagi Henry). Selain itu, dia juga bertindak sewenang-wenang terhadap karyawannya, karena dia merasa memiliki posisi yang lebih baik, di mana karyawannya merupakan buruh ilegal sehingga mereka tidak akan melapor ke serikat buruh jika ada masalah. Henry juga mengabaikan istrinya yang sedang hamil. Hal-hal ini menyebabkan image Henry cukup jelek di mata orang-orang dekatnya. Maka Jones menganjurkan kepada Henry agar melakukan perubahan terhadap hal yang dikiranya remeh tersebut, karena hal remeh itulah yang akan mempengaruhi gambaran yang lebih besar. Perubahan itu dapat dimulai dari kapan saja, termasuk sekarang. Namun, yang menjadi perhatian Jones adalah, niat saja tidak cukup. Suatu perubahan tidak cukup hanya dengan niat saja, namun harus disertai dengan tindakan.

8. Bab ini menjelaskan tentang pilihan dan kesalahan, serta perbedaannya. Hal ini diilhami oleh Henry yang sudah merasa berubah dan meminta maaf atas kesalahannya dulu, namun merasa tidak ada perubahan positif di antara sekitarnya. Lalu Jones menjelaskan bahwa ada dua hal, yaitu kesalahan dan pilihan. Kesalahan adalah hal yang tidak tepat terjadi lebih karena keadaan, misalkan anda tersesat karena tidak tahu jalan dan langit sudah gelap sehingga tidak kelihatan. Namun, pilihan adalah hal yang tidak tepat terjadi karena anda dengan sadar memilih suatu tindakan dan menerima konsekuensinya. Jones mengingatkan bahwa apa yang dilakukan Henry lebih banyak merupakan pilihan yang sadar, bukan sekedar kesalahan yang tidak disengaja. Maka, maaf saja tidak cukup untuk mengubah berbagai pilihan yang salah. Untuk menangani pilihan yang salah, Jones menganjurkan penyesalan yg mendalam dan mencari ampunan. Selain itu, Jones juga berharap bahwa Henry dapat menjadi teladan yang baik bagi anaknya kelak, karena seringkali anak mendapat pengaruh yang cukup besar dari orang tuanya.

9. Pada bab ini, Jones mengajak Andy untuk berjalan di pantai, dan menemui seorang anak di pantai. Kisah dalam bab ini sungguh mirip dengan kisah bab 1, di mana Jones pertama kali bertemu dengan Andy.

10. Bab ini merupakan penutup, di mana Jones meninggalkan kopernya untuk semua orang yang sudah pernah dia ubah hidupnya. dalam bab ini, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Hal utama adalah perspektif, di mana perspektif sangat penting dalam kehidupan kita. Terkadang, dalam menghadapi suatu permasalahan, seringkali kita merasa tidak menemui jawabannya, namun hal ini sesungguhnya karena kita kurang mengerti tentang perspektif. Perspektif dapat menuntun kita menuju pemikiran yang jernih, sehingga dapat membantu kita menyelesaikan suatu masalah.

Overall, buku ini cukup membantu kita dalam memahami perspektif dalam kehidupan, dan di bagian belakang, disertai dengan berbagai refleksi pribadi yang dibagi menjadi beberapa bagian sesuai dengan bab yang ada di dalam buku ini. Saya sendiri belum melakukan berbagai refleksi tersebut, namun ada rencana untuk membahas masing-masing dari refleksi tersebut di dalam blog ini..

Recommended Book!..